“ Roci!, roci!, roci!”. Seorang ibu berteriak di pinggir arena pacuan kuda sambil mengangkat tangannya. Ia dengan penuh semangat menyemangati joki cilik yang sedang memacu kuda dengan sekuat tenaga. Roci dalam bahasa suku mbojo di Bima berarti cepat. Aku menghampiri sang ibu setelah kuda mencapai garis finish.
“ Salah satu joki cilik itu anak ibu?”
“Bukan, saya yang punya kuda. Kalau jokinya saya sewa”.
“Berapa sewa joki cilik sekali main bu?”
“Ada yang 50 ribu, ada juga yang 100 ribu”

Aku terhenyak mendengar jawaban tersebut beberapa saat. Uang 50-100 ribu adalah harga bagi keberanian joki cilik. Anak-anak kecil dengan usia 5-12 tahun yang tanpa rasa takut mengendalikan kuda dengan besar beberapa kali lipat dari tubuh mungil mereka. “Terbuat dari apa nyali mereka?”, gumamku sambil melangkah di pinggir arena yang sedikit becek akibat hujan.

Hari sabtu (24/09/2016) perlombaan “main jaran” dimulai sebagai rangkain acara festival moyo tahun 2016 di Sumbawa. Aku dan tiga orang teman yang tergabung dalam komunitas blogger Lombok Sumbawa berkesempatan hadir untuk melihat ketangkasan sang joki cilik. Perlombaan “main jaran” dilakukan di arena pacuan kuda “Angin Laut” yang terletak di Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa.

Ketangkasan Joki Cilik Meriahkan Festival Moyo

Udara terasa begitu panas di arena pacuan kuda “Angin Laut” yang terletak di Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa.

Panas, begitulah kesan pertama saat saya menginjakkan kaki di arena pacuan kuda. Belum banyak penonton yang mengisi tribun karena hari itu hari pertama perlombaan. Biasanya para penonton akan memadati arena jika final tiba. Suara panitia terdengar lantang memanggil peserta dari atas sebuah panggung. Beberapa kali melalui pengeras suara ia memperingatkan agar para penonton tidak berada di lintasan pacuan kuda karena akan sangat berbahaya.

Ketangkasan Joki Cilik Meriahkan Festival Moyo

Walaupun jumlah penonton tidak terlalu banyak akan tetapi tidak mengurangi keriuhan suasana lomba pacuan kuda joki cilik sumbawa

Jumlah penonton yang tidak terlalu banyak sama sekali tidak mengurangi keriuhan suasana. Saat kuda-kuda mulai berlari dengan kendali joki cilik, para pemilik kuda dan penonton berteriak keras sambil berlari di pinggir arena. Aku sempat heran dan memandang takjub dengan suasana tersebut. Hawa panas di arena pacuan kuda seolah menjadi penyemangat untuk mereka. Suara-suara riuh dalam bahasa samawa dan bahasa mbojo dengan aksen keras seolah melecut nyali para joki cilik.Aku terbawa suasana sekeliling yang terasa sangat penuh semangat. Melihat joki cilik yang digendong menuju tunggangannya menjadi pengalaman yang berharga. Aku melihat semangat, keberanian, harapan di mata kecil mereka.

Ketangkasan Joki Cilik Meriahkan Festival Moyo

Seorang Joki cilik digendong oleh ayahnya sebelum menuju arena pertandingan

Semangatku tiba-tiba berubah haru ketika melihat seekor kuda yang berlari tanpa penunggangnya. Aku tak mampu membayangkan bagaimana tubuh mungil itu terjatuh tanpa pengaman apapun. Aku berlari mencari anak yang terjatuh di tempat joki cilik berkumpul dan menemukan Pole usia 8 tahun sedang dikompres tangannya dengan es batu. Ia meringis tapi masih bisa tersenyum saat beberapa orang photografer memotret wajahnya. Seorang petugas kesehatan memberikan ia obat untuk mengurangi rasa nyeri. Selama perlombaan main jaran, pemerintah menyediakan ambulance dari puskesmas keliling untuk berjaga-jaga jika terjadi kecelakaan pada para joki cilik.

Ketangkasan Joki Cilik Meriahkan Festival Moyo

Firman, Joki Cilik yang baru berusia lima tahun ikut memeriahkan lomba pacuan kuda

Di dekat Pole duduk seorang joki cilik yang badannya terlihat paling kecil dibandingkan yang lain. Firman yang usianya baru 5 tahun ternyata adik kandung dari Pole. Mereka berdua datang jauh-jauh dari Godo Kabupaten Bima untuk memeriahkan acara “main jaran” tahun ini. Firman yang baru kelas satu SD belum satu tahun berlatih menunggang kuda, perlombaan kali ini adalah yang pertama baginya.

“Firman tidak takut?”. Pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Pernah jatuh dari atas kuda”. Kali ini ia hanya mengangguk perlahan. Dari tatapan matanya aku melihat keberanian. Kemampuan Pole dan Firman sebagai joki cilik merupakan turunan dari ayahnya yang juga dulunya seorang joki cilik. Tradisi pacuan kuda ini sangat digemari oleh masyarakat Pulau Sumbawa. Di Indonesia, hanya di Sumbawa anda bisa menemuakan perlombaan pacuan kuda dengan joki seorang anak kecil.

Ketangkasan Joki Cilik Meriahkan Festival Moyo

Tradisi pacuan kuda kini menjadi salah satu sarana mempromosikan wisata Sumbawa. Tradisi yang sangat unik ini menjadi daya tarik yang mampu mendatangkan wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Beberapa orang photografer mancanegara dan salah satu stasiun TV swasta nasional terlihat meliput acara tersebut. Jika anda tertarik untuk melihat ketangkasan para joki cilik, datanglah ke acara festival moyo 2016 yang berlangsung dari tanggal 23 September sampai tanggal 16 oktober 2016.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This