“Welcome to Tetebatu”. Kalimat itu menyambut kedatanganku di Desa Tetebatu Lombok timur. Sawah nan hijau berpayung Gunung Rinjani nun di sana menjadi pemandangan pembuka. Bagi pecinta warna hijau sepertiku, Tetebatu semacam surga yang dijatuhkan ke bumi.

tetebatu lombok

Dahulu, Tetebatu merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Pulau Lombok. Sisa-sisa kejayaannya sebagai primadona pariwisata terlihat dari deretan villa dan lesehan di sepanjang jalan. Beberapa tahun terakhir, tetebatu seolah dilupakan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Kenapa?”. Sebuah tanda tanya besar menggantung dalam benakku.

Hari itu, aku ke Tetebatu untuk mengikuti acara sosial media camp. Tujuan utama acara camping tersebut adalah untuk mempromosikan kembali Tetebatu sebagai salah satu destinasi wisata Lombok. Acara diawali dengan diskusi ringan bersama Kadisbudpar Provinsi NTB H.Lalu Faozal. Dalam acara tersebut beliau menyerap aspirasi dari para pelaku pariwisata di Tetebatu. Kadisbudpar juga berjanji akan memberikan perhatian terhadap pariwisata di Tetebatu dengan membangun pusat informasi pariwisata.

camping di desa tetabatu

Kadisbudpar Provinsi NTB H. Lalu Faozal hadir dalam acara diskusi pariwisata di desa tetabatu, guna menyerap aspirasi dari para pelaku pariwisata di Desa Tetebatu.

Siang yang sejuk di Tetebatu membuat suasana terasa nyaman. Udara bersih terbebas dari polusi membuatku menghirup nafas dalam-dalam seolah ingin membersihkan paru-paru. Aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke lokasi camping. Orong Borok menjadi lokasi yang dipilih panitia.

Rasa penasaran membuatku melaju bersama motor melewati jalanan yang masih buruk. Keindahan alam yang begitu kontras dengan ketersediaan infrastruktur. Setelah 15 menit, aku berhenti karena menjumpai gerbang bertuliskan “Taman Nasional Gunung Rinjani”. Aku baru tahu bahwa kami akan camping di kawasan hutan TNGR. Entah mengapa nama Gunung Rinjani selalu menempati satu ruang kebahagiaan di hatiku.

tete-batu-lombok-timur-camping10

camping di desa tetebatu

tetebatu lombok timur

Hutan lindung dipenuhi pohon-pohon besar menyambut kami. Sebuah jalan kecil yang biasa dilewati masyarakat sekitar adalah satu-satunya jalan menuju Orong Boroq. Kami harus extra hati-hati agar tidak terjatuh karena jalan tanah tersebut agak licin dan menanjak. Kami memasuki hutan dengan rasa lelah berbalut penasaran. Sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas dan menikmati keindahan alam sekitar.

Jalan yang kami lewati berujung di sebuah padang ilalang. Aku menyebutnya tempat parkir terindah di Pulau Lombok. Tiba-tiba hujan turun seolah menyambut kedatangan kami. Untuk mencapai lokasi camping, kami harus berjalan melewati sedikit tanjakan. Suasana terasa romantis bersama hujan dan hijaunya pemandangan. Rasa lelah seolah terobati ketika melihat keindahan hutan dari titik yang lebih tinggi.

camping di tetebatu

Saat kami sampai di lokasi, beberapa orang telah tiba terlebih dahulu. Tenda telah mereka dirikan sehingga kami yang kuyup mendapat tempat berteduh. Tak lama kemudian hujan mulai reda. Beberapa orang teman membantu kami mendirikan tenda. Aku terhenyak sesaat menatap keindahan Gunung Rinjani yang menaungi kami. Puncaknya yang tertutup kabut membuatnya semakin eksotis.

Malam mulai menutupi bersama kelamnya. Kabut mulai turun pada pucuk-pucuk pepohonan. Dingin menyelimuti tenda-tenda kami yang berwarna-warni. Suara tawa, suara gitar dan nyanyian, suara binatang malam berpadu menambah keceriaan suasana. Api unggun mulai dinyalakan. Satu per satu setiap perwakilan komunitas diminta memperkenalkan komunitasnya.

Lihat juga serunya Social media camp #1 di Gili sudak Lombok barat pada tulisan Camping di Gili Sudak bersama para pahlawan pariwisata Lombok sumbawa.

Diawali dengan komunitas Kelas Inspirasi Lombok yang diwakili oleh Surya. Ia bercerita tentang kegiatan mereka menginspirasi anak-anak sekolah sesuai profesi yang mereka geluti. Dalam waktu dekat mereka akan mengadakan kelas imspirasi di wilayah Sembalun Lombok Timur. Ada juga komunitas 1000 guru Lombok dengan tagline Traveling and teaching. Mereka adalah anak-anak mudah yang traveling sambil mengajar di sekolah-sekolah terpencil. Traveling yang memberi arti bagi daerah yang mereka kunjungi.

Aku salut dengan semangat mereka dalam memberi arti bagi sesama. Acara tersebut meyakinkanku bahwa Lombok tidak kekurangan anak muda yang siap berkontribusi bagi daerahnya. Dan acara camping kali ini menyatukan puzle kebaikan yang selama ini seolah terpecah.

Komunitas speaker kampung cukup menyedot perhatianku. Mereka dengan segala keterbatasan berusaha memberikan informasi yang berkualitas kepada masyarakat kampung di Lombok Timur. Selain media online berupa blog, mereka juga menerbitkan majalah dan membuat radio komunitas. Sejauh yang aku ketahui tidak banyak orang-orang yang mampu bergeliat di kampung. Kebanyakan anak muda lebih memilih eksistensi di perkotaan. Tapi komunitas speaker kampung mematahkan asumsi tersebut dengan pengabdiannya pada kampung halaman.

caping di tetebatu

Komunitas 1000 guru Lombok juga ikut memeriahkan acara social media camp di tetebatu

Ada satu komunitas yang juga cukup unik yaitu komunitas Berbagi Nasi Bungkus. Saban jum’at mereka berkumpul dan membagikan nasi bungkus kepada mereka yang duafa. Mereka adalah anak-anak muda yang tidak hanya beretorika tentang isu kelaparan serta keterbatasan pangan yang dialami banyak penduduk. Mereka langsung menyisihkan uang dari kantong mereka sendiri untuk menolong yang lapar. Berbagi nasi bungkus itu hal kecil mungkin bagi banyak orang tapi sangat berharga bagi banyak orang yang setiap pagi masih bertanya “hari ini kami makan apa?”.

Selain itu, hadir juga beberapa komunitas yang terbentuk dari hoby jalan-jalan. Ada komunitas jelajah Lombok yang eksis di instagram. Ada komunitas unik jomblo traveler yang isinya hanya para jomblo. Komunitas familiy traveler, komunitas paralayang Lombok, dan komunitas sasak camp. Mereka adalah anak-anak muda Lombok yang memiliki peran pentingĀ  dalam upaya promosi pariwisata Lombok melalui media sosial. Mungkin ada banyak orang yang menganggap aktivitas mereka sia-sia saja tapi aku percaya bahwa mereka adalah pahlawan promosi pariwisata daerah. Mereka yang tanpa bayaran sepeserpun begitu bahagia berbagi info tentang keindahan wisata daerah.

Aku sendiri diminta berbicara tentang komunitas Lombok Sumbawa Blogger. Komunitas yang baru seumur jagung dan berharap bisa menghimpun para blogger di NTB. Aku yakin banyak anak muda NTB yang suka jalan-jalan dan menulis. Tulisan mereka akan sangat membantu siapapun yang membutuhkan informasi tentang destinasi wisata Lombok Sumbawa.

Malam semakin larut bersama dingin yang mulai menggigit. Aku terpana menatap kerlip lampu nun di sana. Terlihat seperti kerlip bintang, tapi sayang sekali keterbatasan kamera membuatku tak mampu mengababadikannya.

Sebagian dari kami masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Sebagian lagi memilih menghabiskan malam sambil nyanyi di sekitar api unggun. Hingga akhirnya aku terlelap, aku masih mendengar lagu-lagu dan suara gitar yang mereka mainkan.

Sayup-sayup suara azan subuh nun di sana membangunkanku. Aku keluar dari tenda dan menghirup udara segar. Angin dingin sesekali menggerakkan ranting-ranting pepohonan. Kenikmatan aroma pagi seolah mengalirkan hormon indorfin dalam otakku.

Kelezatan subuh begitu terasa di tengah belantara. Aku selalu percaya bahwa mendekatkan diri dengan alam adalah salah satu langkah mendekatkan diri kepada sang pencipta. Perlahan jingga menyapa di ufuk timur. Sang mentari berusaha keluar dari kepungan kabut. Gunung Rinjani berdiri gagah menjadi objek foto favorit pagi itu. Aku memilih bergabung bersama beberapa orang teman di sekitar sisa api unggun semalam.

Berdiskusi ringan tentang dunia pariwisata sambil menikmati suasana. “Pariwisata adalah narasi”, kata seorang teman. Orang-orang sebenarnya tidak terlalu peduli tentang infrastruktur jika kita menarasikan pariwisata dengan penuh keindahan. Ambil contoh Pantai Pink di Lombok Timur, dengan jalanan yang buruk tempat itu selalu ramai pengunjung. Bahkan tingginya kunjungan wisatawan seolah memaksa pemerintah untuk memperbaiki jalan. Aku mencerna kalimat tersebut dan membenarkannya dalam hati. Mungkin memang terkadang kita perlu membuat asumsi terbalik.

Seusai sarapan, kami melanjutkan agenda terakhir yaitu penanaman pohon. Panitia telah menyiapkan bibit untuk kami tanam di sekitar lokasi camping. Traveling hijau adalah salah satu upaya kami untuk melestarikan lingkungan. Semoga apa yang kami tanam dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

camping di tetebatu lombok timur

Pelajaran yang bisa aku ambil dari acara sosial media camp kali ini adalah:

  • Kebersamaan selalu mengajarkanku tentang toleransi. Saling menghargai dan menghormati meski berasal dari komunitas yang berbeda.
  • Jangan hanya mengambil dari alam tapi berilah yang terbaik untuk alam sekitar. Membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon menjadi contoh yang bisa dilakukan untuk melestarikan lingkungan.
  • Jangan pernah meremehkan apapun yang dilakukan oleh orang lain ataupun komunitas sekecil apapun. Tidak ada yang sia-sia. Meski hanya dengan upload foto selfie itu sangat berarti bagi promosi wisata daerah.
  • Pariwisata adalah narasi maka narasikanlah ia dengan cara terbaik yang kita bisa. Tidak akan pernah sempurna sebuah daerah, tapi jangan sampai ketidaksempurnaan tersebut menjadi penghalang kita untuk membantu promosi wisata daerah.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This