“Jangan bertanya apa yang bisa tanah air berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang bisa kau berikan untuk tanah airmu”.

Sepenggal kalimat ini membersamai perjalananku sore itu menuju Pelabuhan Batu Kijuk di Desa Sekotong Barat, Lombok Barat. Hujan yang mengguyur bumi seolah ingin bermain-main, sejenak terhenti kemudian deras kembali. Terhitung empat kali aku berhenti untuk berteduh karena telah kuyup dan kedinginan. Seorang teman yang terlebih dahulu berada di lokasi mengirim gambar bahwa wilayah Sekotong cuacanya panas, tapi hujan seolah enggan beranjak dari jalan yang kulalui. Ia menemani dengan derai perlahan namun bertahan bersama mendung yang kian pekat.

Sabtu (17/09/2016) adalah hari yang berkesan bagiku karena bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai komunitas yang selama ini aktif mempromosikan wisata Lombok dan Sumbawa. Pertemuan kami dalam rangka mengikuti acara social media camp dengan tajuk “komunitas bertanya Budpar menjawab” di Gili Sudak. “Hei kaq ema”, seorang pemuda menyapaku dengan ramah saat sampai di Pelabuhan Batu Kijuk. Belakangan aku mengetahui bahwa pemuda itu adalah seorang reporter dari Selaparang TV, sebuah chanel TV daerah yang sering menayangkan keindahan wisata Lombok. Selain itu, ada juga seorang gadis yang aktif traveling sambil mengajar dan tergabung dalam komunitas 1000 guru. Aku merasa beruntung berada di dekat anak muda yang tak hanya sekedar cerdas tapi melakukan banyak hal untuk daerah tercinta.

camping di gili sudak lombok

Perahu milik seorang nelayan membawa kami menuju Gili Sudak. Seolah tak peduli dengan langit yang masih mendung, kami berceloteh penuh tawa menikmati perjalanan. Menyaksikan anak-anak nelayan Sekotong bermain di laut membuatku mengingat masa kecil di dekat Pantai Tanjung Aan nun di selatan sana. Menghabiskan masa kecil bersama alam, melompat riang ke dalam pelukan birunya laut tanpa peduli legamnya kulit. Betapa bahagianya masa kecil seperti itu.

Untuk sampai ke Gili Sudak, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit saja. Dari atas perahu kami bisa melihat keindahan bukit-bukit di sekitar Sekotong. Kami juga bisa melihat keindahan Gili Kedis, sebuah gili kecil yang kini populer sebagai lokasi bulan madu di Lombok. Pasir Gili Kedis yang putih berpadu dengan birunya laut membuat gili kecil ini layak menjadi destinasi wisata prioritas jika anda liburan ke Pulau Lombok.

camping di gili sudak lombok

Suasana gili sudak lombok yang begitu tenang

“ Kedamaian”, begitulah kesan pertama saat aku menginjakkan kaki pertama kali di Gili Sudak. Suasana yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana di Gili Trawangan yang penuh hingar bingar wisatawan. Gili Sudak memang pilihan yang sangat tepat untuk camping. Sembari menunggu teman-teman dari komunitas yang lain, kami menikmati suasana pantai di Gili Sudak yang begitu tenang.

Baca Tulisan sebelumnya, Blogger dan Pariwisata Lombok Sumbawa

Satu per satu boat yang membawa teman-teman dari berbagai komunitas bersandar di Gili Sudak. Suasana mulai ramai dengan berbagai adegan selfie maupun sekedar canda tawa. Selama ini banyak diantara mereka yang aku kenal hanya lewat dunia maya, beruntung sekali rasanya aku bisa bertemu mereka di dunia nyata.

camping di gili sudak lombok

Teman-teman blogger dan mereka yang aktif mempromosikan wisata lombok sumbawa

Bagiku, mereka adalah “pahlawan pariwisata Lombok Sumbawa”, mereka yang tanpa pamrih apapun dengan sukarela men-share keindahan alam maupun budaya Lombok Sumbawa. Menghimpun mereka semua dalam social media camp adalah langkah yang tepat bagi Disbudpar untuk lebih memaksimalkan promosi wisata Lombok Sumbawa lewat dunia digital.Senja berbalut mendung menaungi kecerian kami yang sedang memasang tenda. Aku satu tenda dengan Yuni, seorang mahasiswi Universitas Mataram yang sangat hoby foto dan jalan-jalan.

Malam hari di bawah cahaya purnama, kami melakukan diskusi dengan Ibu Hartati dan Ibu Utria Salim perwakilan dari Disbudpar provinsi NTB. Perwakilan dari komunitas mengungkapkan ide, saran, kritik terkait pariwisata di Lombok dan Sumbawa. Ada yang menyampaikan permasalahan sampah, permasalahan infrastruktur, masalah keamanan dan kesenjangan antara kemajuan wisata di Lombok dan wisata Sumbawa. Semua masukan dan pendapat dijawab dengan bijak oleh kedua narasumber. Terakhir sebagai penutup sesi malam itu, mereka berharap komunitas yang ada bersatu dalam promosi wisata Lombok Sumbawa agar promosi lebih masif.

camping di gili sudak lombok

Aktivitas bersih-bersih pantai di gili sudak bersama teman-teman komunitas sosial media yang aktif mempromosikan wisata lombok sumbawa

Suasana Gili Sudak mengantarku dalam tidur yang lelap. Keesokan harinya, aku menghirup udara pagi yang bebas polusi. Ada rasa bahagia menyelinap saat kutatap rona jingga di ufuk timur. Pagi itu, seusai sarapan kami melakukan kegiatan bersih pantai dan transplantasi terumbu karang. Media transplantasi dibuat dengan warna-warna cerah dan bentuk yang menarik. Terumbu karang di dekat Gili Sudak rupanya sudah banyak yang rusak sehingga ikan-ikan kehilangan tempat tinggal. Kegiatan transplantasi terumbu karang diharapkan bisa menyelamatkan ekosistem laut di perairan Gili Sudak di kemudian hari.

camping di gili sudak lombok

Transplantasi terumbu karang di gili sudak lombok, salah satu kegiatan dalam acara camp.

Camping di Gili Sudak bersama komunitas dan Disbudpar provinsi NTB mengajarkanku tentang beberapa hal:

  1. Traveling bukan hanya tentang destinasi tapi juga tentang orang-orang yang aku temui di lokasi wisata.
  2. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam promosi pariwisata Lombok Sumbawa akan memberikan dampak yang lebih masif.
  3. Setiap orang memiliki gaya traveling masing-masing tapi biasakan untuk menghargai wisatawan yang lain.
  4. Berikan yang terbaik untuk alam makan kau akan mendapatkan kebaikan yang sama, semesta akan membalas dengan takaran yang tepat.
  5. Cintailah lingkungan, jaga dan rawat dengan sebaik-baiknya.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This