“Untuk mengenali sebuah bangsa maka pelajarilah sejarah dan kebudayaannya”. Budaya merupakan pilar penting dalam tananan kehidupan bermasyarakat. Pada era ini dimana traveling menjadi sebuah trand, penting kiranya kita melihat sebuah daerah tidak hanya dari segi keindahan alamnya saja. Traveling ke tempat-tempat yang memiliki akar budaya yang kuat di sebuah daerah akan memperkaya wawasan kita. Kali ini, aku, akan mengajak anda untuk melihat pesona 3 istana Sumbawa.

1. ISTANA DALAM LOKA SUMBAWA

 

istana sumbawa magnet wisata budaya
“ Mbak, sendalnya dilepas dulu baru boleh masuk”. Kalimat itu mengagetkanku dilangkah pertama saat akan memasuki Istana Dalam Loka. Mungkin karena aku terlalu antusias sehingga lupa melepas sendal.  Dengan  tersenyum malu aku melepas sendal dan segera menuju pintu Istana Dalam Loka.

Bangunan tua dengan design rumah panggung seperti rumah khas Sumbawa ini membuatku berdecak kagum. Aku seolah kembali ke masa lampau. Membayangkan bagaimana Istana Dalam Loka di bangun oleh sultan Sumbawa yang ke 16 yaitu Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III. Sultan yang berkuasa dari tahun 1883-1931 ini membangun Istana Dalam Loka tepat pada tahun 1885. Hmmm, sekitar 131 tahun yang lalu di saat kejayaan kesultanan Sumbawa berkuasa.

Bangunan Istana Dalam Loka tidak terlepas dari sejarah perkembangan agama islam di Pulau Sumbawa.  Istana ini dibangun dengan 99 tiang penyangga. Angka 99 merupakan perlambangan dari jumlah sifat Allah atau dikenal dengan Asma’ul Husna. Pada zaman dahulu, seorang sultan dalam masyarakat Sumbawa tidak hanya dijadikan pemimpin masyarakat tetapi juga sebagai pemuka agama.

Aku melangkah memasuki Istana Dalam Loka yang saat itu sedang sepi pengunjung. Sedikit rasa kecewa timbul di hatiku saat mengetahui bahwa istana ini kosong tanpa satupun peninggalan sejarah yang bisa kulihat di dalammya. Dari penjaga istana aku mengetahui bahwa semua benda-benda bersejarah telah dipindahkan ke Istana Bala Kuning.

Interior istana dalam loka

interior istana dalam loka sumbawa

Semakin dalam memasuki Istana Dalam Loka, aku melihat beberapa ruangan. Ruangan-ruangan di dalam istana ini memiliki nama dan fungsinya masing-masing yaitu:

Lunyuk agung, merupakan ruangan yang terletak di bagian depan. Fungsi ruangan ini adalah sebagai tempat dilakukannya musyawarah, resepsi, dan acara-acara penting yang diselenggarakan oleh Sultan Sumbawa.
Lunyuk Mas, merupakan ruangan yang letaknya di sebelah lunyuk agung. Fungsi ruangan ini sebagai tempat khusus bagi permaisuri saat berlangsungnya upacara-upacara adat.
Bala Bule, merupakan ruangan yang letaknya di depan Lunyuk Mas. Ruangan ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai tempat bermain putra dan putri sultan sedangkan lantai kedua berfungsi sebagai tempat bagi permaisuri dan para istri bangsawan menyaksikan pertunjukan yang dilakukan di halaman istana.
Ruang Dalam. Ruang dalam terbagi menjadi dua yaitu ruang dalam sebelah timur dan ruang dalam sebelah barat. Ruang dalam sebelah timur terdiri atas empat kamar yang berfungsi sebagai tempat untuk putra/putri sultan yang sudah menikah. Ruang dalam sebelah barat berfungsi sebagai peraduan sultan. Bentuk ruangan ini memanjang dari arah selatan ke utara. Terdapat sekat kelambu sebagai tempat sholat.
Ruang sidang, terletak pada bagian utara Bala Rea. Berfungsi sebagai tempat persidangan pada masa kesultanan Sumbawa,
Dapur terletak berdampingan dengan ruang makan. Kamar mandi, terletak di luar ruang induk. Posisinya memanjang dari kamar peraduan Sultan hingga kamar permaisuri.

Karena tak ada benda-benda bersejarah yang bisa aku pelajari di dalam istana, aku melangkah keluar setelah melihat ruangan-ruangan yang ada. Perhatianku tertuju pada sebuah masjid yang berada di dekat istana. Masjid Nurul Huda seolah menjadi saksi sejarah keisalaman masyarakat Sumbawa. Pemerintahan kesultanan Sumbawa selalu berpegang teguh pada falsafah “Adat barenti ko syara, Syara barenti ko Kitabullah, tacit ko Nene, kangila boat lenge” yang artinya “Adat berpegang teguh pada syariat, syariat berpegang pada kitabullah, takut kepada Allah, takut akan perbuatan kotor”.

istana sumbawa

Masjid nurul huda di kompleks instana dalam loka

Masjid Nurul Huda dulunya dijadikan sebagai tempat bagi Sultan Sumbawa dalam menjalankan roda pemerintahannya. Berbagai acara-acara penting kesultanan diadakan di masjid ini. Masjid Nurul Huda memiliki arsitektur yang unik dengan tidak melepas ciri khas bangunan Sumbawa. Pintu masuk masjid ini hampir sama dengan Istana Dalam Loka. Pada masa kini, masjid Nurul Huda dijadikan sebagai tempat perayaan acara-acara keagamaan. Selain itu, masjid ini digunakan sebagai tempat penobatan Sultan Sumbawa.

2. ISTANA BALA PUTI

istana disumbawa

Memasuki gerbang Istana Bala Puti membuatku mengingat sejarah penjajahan kolonial Belanda di Indonesia. Bangunan istana dengan arsitektur zaman kolonial ini menjadi salah satu bangunan penting dalam sejarah Sumbawa. Istana Bala Puti dibangun oleh Sultan Muhammad Kaharruddin III yang melanjutkan tahta Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III. Pembangunan istana ini dilakukan pada tahun 1932-1934.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Kaharruddin III ini merupakan masa peralihan kolonialisme Belanda ke Jepang. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1942 delapan kapal perang Jepang tiba di Labuhan Mapin Sumbawa. Kekuasaan Jepang di Sumbawa tidak berlangsung lama karena peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki menjadi akhir kejayaan Jepang masa itu. Akan tetapi, pada tahun 1948, Belanda kembali melakukan agresi militernya ke Sumbawa. Ada banyak peristiwa-peristiwa sejarah pada masa itu yang terjadi di Istana Bala Puti.

istana bala puti

istana bala puti sumbawa

Kini Istana Bala Puti lebih dikenal dengan nama Wisma Praja. Istana ini sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya acara-acara kedaerahan di Kabupaten Sumbawa seperti acara diskusi budaya yang aku ikuti dalam rangkaian acara Festival Moyo 2016.

3. ISTANA BALA KUNING

istana sumbawa

“Mohon maaf mbak, di dalam istana ini anda tidak boleh mengambil foto”. Kalimat itu membuatku tersentak kaget dan segera memasukkan kembali kamera ke dalam tas. Seorang keluarga sultan menerima kami di dalam Istana Bala Kuning. Saat itu, Sultan Sumbawa sedang tidak berada di kediamannya karena ada tugas di Jakarta.

Istana Bala Kuning merupakan tempat tinggal dari Sultan Muhammad Kaharuddin IV. Setelah wafatnya Sultan Muhammad Kaharruddin III pada tahun 1975, terjadi kekosongan tahta Kesultanan Sumbawa selama 36 tahun. Pada tanggal 5 April 2011 melalui muskara rea Lembaga Adat Tana Samawa, putra mahkota Sultan Muhammad Kaharruddin III yaitu Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharruddin di nobatkan sebagai Sultan Sumbawa dengan gelar Sultan Muhammad Kaharruddin IV.
Prosesi penobatan Sultan Sumbawa berlangsung di Istana Dalam Loka dan Majid Nurul Huda.

Selain sebagai tempat tinggal Sultan Muhammad Kaharuddin IV, Istana Bala Kuning juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah Kesultanan Sumbawa. Terdapat mahkota sultan, keris pusaka, tombak, dan berbagai macam benda bersejarah lainnya yang terbuat dari emas dan perak.
Aturan dari Kesultanan sumbawa tidak membolehkanku untuk mengambil foto benda-benda bersejarah tersebut. Dari keterangan keluarga sultan, ada prosesi ritual khusus jika ingin memperlihatkan benda-benda tersebut ke khalayak publik.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This